BISNIS YANG BERETIKA VERSUS BISNIS YANG MENGUNTUNGKAN

BISNIS YANG BERETIKA VERSUS BISNIS YANG MENGUNTUNGKAN

Para pelaku bisnis kapitalis menganggap bahwa hubungan antara bisnis dan etika adalah kontradiktif karena ada konflik kepentingan antara etika dan kepentingan perusahaan dalam mengejar keuntungan semaksimal mungkin. ketika etika berlawanan arah  dengan keuntungan perusahaan, pebisnis kapitalis lebih memilih keuntungan dan meninggalkan etika berbisnisnya dengan menghalalkan segala cara. Akan tetapi,bagi perusahaan yang menerapkan etika dalam bisnisnya , perusahaan tersebut akan terus hidup dalam jangka panjang dengan timgkat pertumbuhan yang tinggi

Pada kenyataannya bisnis memang sering kali dikaitkan dengan sebuah permainan. Bisnis dimisalkan seperti sebuah permainan pokera, dimana suatu tindakan kecurangan bisa dibenarkan dengan dengan tujuan untuk memenangkan permainan tersebut. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa tujuan dari bisnis adalah untuk membuat keuntungan seraya tetap berada dalam pada aturan permainan. Apakah bisnis beretika merupakan bisnis yang bagus?.

Jika seseorang secara sepintas melihat pada tujuan dari etika dan konsepsi umum dari tujuan bisnis seseorang mungkin melinai bahwa etika bisnis merupakan suatu kebodohan. Pendapat secara ini berangkat dari pemahaman bahwa bisnis menekankan satu hal, dan etika menekankan hal lainnya. Jika meningkatkan laba merupakan tujuan dasar dan prinsip bisnis, dan keuntungan ekonomis merupakan faktor utama dalam keputusan strategis bisnis, perilaku etis dan perilaku bisnis pada akhirnya pasti akan bertentangan ( menyebabkan konflik). Tentu saja, untuk membuat argumen seperti itu pertama kali kita harus menunjukkan karakteristik dari bisnis dan karakteristik dari etika dan kemudian menunjukkan ketidakcocokan antara keduanya.

Bagi individu atau organisasi bisnis yang menganggap keuntungan financial merupakan sesuatu yang paling penting dan segala-galanya, bisnis merupakan suatu alat untuk mengejar kepentingan pribadi (self-interest) yakni keuntungan. Perspektif semacam ini menganggap bahwa moralitas atau etika tidak cocok dengan bsnis jika mengikuti aturan dari praktik bisnis,dimana tidak dapat dihindari lagi,adalah untuk mengejar kepentingan pribadi. Jika praktik bisnis hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi ,maka persoalan melanggar tuntutan akan keadilan bukanlah suatu masalah. Oleh karena itu dengan diskripsi seperti ini orang dapat menjustifikasi “itu hanyalah bisnis” dan karenanya tanggung jawab sosial bisnis hanyalah menggunakan sumberdaya untuk menghasilkan keuntungan.

Apabila bisnis masih berparadigma bahwa tanggung jawab sosial perusahaan hanyalah untuk meningkatkan keuntungan ,cukup masuk akal untuk mengklaim bahwa etiak bisnis bukanlah apa-apa. Lebih jauh lagi , apabila perusahaan misalnya berada dalam kondisi tekanan persaingan pasar yang ketat ,salah satu jalan untuk meningkatkan keuntungan bisnisnya adalah dengan mengorbankan yang lainnya. Apakah itu melalui perampingan perusahaan ,pemecatan kru,atau bahkan tindakan yang mungkin melakukan atau membahayakan orang lain akn diambil demi kesejahteraan perusahaan .

Memasuki era globalisasi , isu mengenai etika bisnis menjadi begitu penting. Ada yang berpendapat bahwa globalisasi mungkin akan mengurangi sejumlah kebebasan bagi individu dan organisasi bisnis dalam hal pembuatan keputusan bisnis. Hal ini membuat perusahaan tidak akan bisa menggunakan kebebasab manajerialnya dalam cara apa pun yang akan menempatkan  mereka pada ketidakunggulan kompetitif.

Dengan demikian , ketika perusahaan mencoba untuk mengambil resiko dan mengabaikan etika bisnis dengan tujuan menghasilkan keuntungan ,maka mereka akan berpeluang kehilangan reputasi dan prestasi yang telah mereka capai..

Sumber : https://dogetek.co/