EVOLUSI PERKEMBANGAN ILMU ETIKA BISNIS

EVOLUSI PERKEMBANGAN ILMU ETIKA BISNIS

 Etika bisnis dari segi keilmuan mengalami perkembangan , hal ini bisa dilihat dari beberpa tahapan masa sebagai berikut:

Ø  Masa peralihan . pada tahun 1960-an, di AS muncul perdebatan mengenai tanggung jawab sosial yang berhubungan dengan etika. Terjadi perubahan sosial yang mempengaruhi organisasi bisnis dan manajemennya.

Ø  Masa Lahirnya Etika Bisnis. Pada tahun 1970-an , terdapat dua faktor yang mendorong kelahiran etika bisnis. Pertama sejumlah ahli filsafat mulai memikirkan masalah ethis dalam bisnis. Kedua ,terjadinya krisis moral yang dialami oleh dunia bisnis di AS

Ø  Masa etika bisnis meluas ke eropa. Etika bisnis mulai berkembang sepuluh tahun kemudian. Di tandai dengan banyaknya perguruan tinggi di eropa barat yang memasukkan etika bisnis sebagai mata kulih. Tahun 1987 didirikan European Ethics Network yang bertujuan menjadi forum pertemuan antara akademis dari universitas ,sekolah bisnis ,para pengusaha dan wakil-wakil dari organisasi nasional dan Internasional.

Ø  Masa etika bisnis menjadi fenomena global. Pada tahun 1990-an ,seperti bisnis itu sendiri,etika bisnis telah menjadi fenomena global dari amerika Latin, asia ,Eropa Timur, dan kawasan dunia lainnya.

PERAN ETIKA DALAM BISNIS

Secara umum ,etika adalah ilmu normatif penuntun hidup manusia, yang memberi perintah apa yang seharusnya kita kerjakan. Maka etika mengarahkan manusia menuju aktualisasi kapasitas terbaiknya.

Pada dasarnya praktik etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengnah maupun jangka panjang. Misalnya dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik internal perusahaan maupun dengan eksternal.

Dengan demikian ,menjadi jelas bahwa tanpa suatu etika yang menjadi acuan ,para pebisnis akan lepas tidak terkendali, mengupayakan segala cara, mengorbankan apa saja untuk mencapai tujuannya. Pada umumnya filosofi yang mendominasi para pebisnis adalah bagaimana cara memaksimalkan keuntungan. Pebisnis seperti ini , seperti yang dikatakan oleh Charles Diskens:”semua perhatian, harapan,dorongan ,pandangan, dan rekanan mereka meleleh dalam dolar.manusia dinilai dari dolarnya”. Theodore Levitt mengatakan bahwa para pebisnis ada hanya untuk satu tujuan ,yaitu untuk menciptakan dan mengalirkan nilai kepuasan dari suatu keuntungan hanya pada dirinya dan nilai budaya,nilai spiritual dan moral tidak menjadi pertimbangan dan pekerjaannya. Akibatnya sungguh mengerikan. Mereka dapat menyebabkan perang antarbangsa, antarlembaga ,atau antarperusahaan. Mereka menganggap dan membuat bisnis seperti medan perang.

Perumusan dan penetapan etika merupakan salah satu dari sekian banyak upaya pemersatu  (internal integration) yang diusahakan oleh pemimpin perusahaan untuk meningkatkan daya tahan bisnisnya. Itu dilakukan dengan mengindahkan prinsip-prinsip pengelolaan  usaha yang baik(good corporate governance) sekaligus memenuhi kewajibannya sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab (corporate sosial responsibility).

Etika bisnis juga berhubungan dengan nilai merek (brand value). Prilaku bisnis yang beretika berkontribusi pada pembangunan citra dari nilai sebuah produk. Salah satu caranya dengan membrikan pelatihan mengenai etika pada kru. Hasilnya sungguh luar biasa ,misalnya menurunnya biaya , menurunnya pelanggaran dan perusakan pada merek atau reputasi ,dan pada akhirnya menurunnya penalti atau hukuman akibat melanggar aturan yang telah ditentukan. Sehingga diperlukan kemampuan untuk menghasilkan ‘brand value’ dan reputasi dengan standar integrasi bisnis dan tanggung jawab sosial (social responsibility) yang tinggi. CRS tidak hanya sebuah pilihan, CSR merupakan prasyarat integral dan mutlakuntuk kesuksesan bisnis dalam jangka panjang. Meningkatnya CSR berarti meningkatnya manajemen kualitas.

Sumber : https://solopellico3p.com/