Kisah Zaitun si Gadis Papua yang Sukses Berkarir di Dunia Migas

Kisah Zaitun si Gadis Papua yang Sukses Berkarir di Dunia Migas

Saya Papua dan saya bisa” Kata-kata itu menjadi penutup kisah Zaitun Masipa saat bercerita tentang keberhasilannya menjadi bagian perusahaan migas dunia. Ia pun menuturkan, perjalanannya menjadi teknisi produksi Tangguh LNG di Papua tidak mudah.

Sejak SMP, gadis asal Tofoi, Kecamatan Sumuro, Kabupaten Teluk Bintuni ini sudah memupuk mimpinya

untuk bekerja di Tangguh LNG, Papua. Alasannya sederhana, dia ingin memastikan operasional produksi LNG perusahaan migas asal Inggris tersebut tidak membawa dampak negatif bagi daerahnya.

“BP beroperasi di daerah yang sangat dekat dengan daerah saya tinggal,” tuturnya.

Zaitun mengaku ingin memastikan operasional mereka berjalan dengan baik, tidak hanya memproduksikan LNG tetapi juga limbah-limbahnya diolah agar tidak membahayakan lingkungan karena di sekitar sana banyak nelayan.
Heboh! Ternyata ini bukan masalah kulit wajah namun karena adanya
Cukup lakukan beberapa kali dalam seminggu agar parasit hilang
Diskon gila-gilaan. S9 hanya 2.150.000 rupiah sampai akhir tahun!
Sisa 10 pcs. Segera dapatkan hanya dengan harga diskon!
Menghilangkan bau mulut hanya dengan cara sederhana dari …
Mengetahui cara membunuh parasit dalam 1 malam
Menghilangkan bau mulut hanya dengan cara sederhana dari …
Mengetahui cara membunuh parasit dalam 1 malam

“Kalau saya tidak di sana, saya tidak tahu operasionalnya berjalan bagus atau tidak,

bisa membahayakan kampung saya yang di dekat sana atau tidak. Bahaya terbesar adalah ledakan, jadi harus saya pastikan aman,” katanya di booth BP saat IPA Convex 2019 pekan lalu.

Dia lalu mencari cara untuk bisa bekerja di Tangguh LNG yang dioperasikan oleh BP (British Petroleum) Indonesia. Kesempatan pun datang saat BP membuka program bagi masyarakat Papua untuk belajar di SMK Migas di Cepu, Jawa Tengah. Seleksi demi seleksi dia ikuti. Hingga akhirnya, pada 2009 dia resmi masuk ke sekolah tersebut.

“Saat itu saya bilang, saya putri Papua. Saya harus mengoperasikan plant yang ada di sana, saya harus bisa mengoperasikan BP Tangguh. Saya tidak mau kalau ada orang nanya, saya tidak tahu padahal itu daerah saya. Meski saya perempuan, saya harus bisa,” ujarnya.

Tekad besar Zaitun tidak surut meski orang tuanya sempat khawatir lantaran harus melepas

putrinya sekolah di Jawa. Tempat dengan jarak ribuan kilometer dari tanah mereka, Papua. “Kata orang tua, takut saya tinggal di kolong jembatan padahal tidak begitu. Kan dibiayai oleh BP,” katanya lalu tertawa.

Setelah berhasil meyakinkan orang tuanya, Zaitun berangkat ke Jawa untuk belajar tentang produksi migas. Lulus dari SMK Migas pada 2012, dia pun melanjutkan pendidikan ke PEM (Politeknik Energi dan Mineral) Akamigas Cepu.

“Di situ dibatasin juga, pada angkatan saya cuma diambil 3 orang. Lagi-lagi saya terpilih di antara 3 itu, senangnya luar biasa karena impian saya untuk bisa bergabung di BP semakin lebar,” kenangnya. Setelah lulus, dia mendapatkan tawaran dari BP untuk ikut intership program selama 6 bulan.

Lulus dari internship program, ternyata tidak lantas membuat Zaitun langsung masuk ke BP Indonesia. Dia masih harus menjalani BP Technician Apprentice Program di Ciloto, Jawa Barat selama 3 tahun sejak Februari 2016 hingga Februari 2019. Kemampuan Bahasa Inggris tentu mutlak diperlukan ketika bekerja di perusahaan migas asing. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya.

 

Sumber :

https://egriechen.info/