Memproduksi Kalender di Ujian Praktik Kejuruan SMK Grafika

Memproduksi Kalender di Ujian Praktik Kejuruan SMK Grafika

Kemendikbud — Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki banyak program keahlian

yang mampu menghasilkan produk sebagai hasil karya nyata kompetensi lulusannya. Salah satu program keahlian tersebut adalah Produksi Grafika. Ujian Praktik Kejuruan (UPK) yang dijalani siswa SMK sebagai bagian dari Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) mengharuskan siswanya menghasilkan sebuah produk sesuai program keahliannya. Misalnya, bagi siswa program keahlian Produksi Grafika, produk yang dihasilkan adalah produk cetakan, seperti kalender.

Di SMK Negeri 4 Malang, Jawa Timur, Ujian Praktik Kejuruan (UPK) untuk siswa kelas XII adalah mencetak kalender dengan menggunakan mesin offset empat warna. Di ujian praktik ini, siswa diuji dalam sebuah kelompok yang terdiri dari empat orang. Mereka bekerja dalam tim dan berbagi tugas untuk menyelesaikan tugas membuat sebuah produk bersama, yaitu kalender dinding. Ada dua alat besar yang digunakan dalam proses mencetak kalender, yaitu mesin offset empat warna dan mesin berupa meja kontrol kualitas (quality control) untuk mengecek warna dari hasil cetakan. Setiap siswa menjalankan tugasnya masing-masing dan menjalin kerja tim dalam proses pencetakan kalender.

Di perusahaan percetakan, terdapat beberapa peran atau posisi dalam proses pencetakan

, antara lain operator mesin, asisten operator, helper, dan bagian kontrol warna. Saat menjalani UPK, keempat siswa yang tergabung dalam satu kelompok itu harus bisa membagi tugas-tugas tersebut. Untuk menghasilkan sebuah kalender dinding dalam ujian praktik kejuruan, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam. Para siswa yang ujian diberikan satu plat cetakan yang sudah disiapkan oleh siswa program keahlian Persiapan Grafika. Selanjutnya, plat tersebut diproses di mesin cetak hingga menjadi sebuah kalender dinding.

Program keahlian Produksi Grafika di SMKN 4 Malang belum mendapatkan status sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak 1 (LSP-P1). Artinya, sekolah tersebut tidak bisa mengeluarkan sertifikat kompetensi sendiri untuk lulusannya, melainkan ditandatangani bersama oleh pihak sekolah dan dunia industri dan dunia usaha (DUDI). Penguji dalam UPK Produksi Grafika di SMKN 4 Malang pun melibatkan penguji eksternal yang berasal dari DUDI. Dalam hal ini, SMKN 4 Malang menggandeng PT Mitra Grafika di Malang untuk ikut menguji dan menilai kompetensi siswanya.

Lulik Efriyanto, penguji dari PT Mitra Grafika mengatakan, beberapa aspek yang dinilai dalam UPK

Produksi Grafika antara lain proses penyiapan mesin dan alat oleh siswa, penguasaan siswa dalam menggunakan mesin, serta aspek kerja sama dalam tim. Tidak hanya itu, attitude atau sikap juga menjadi salah satu komponen penilaian penguji eksternal dalam UPK.

“Sebenarnya (dunia industri) lebih melihat ke etika (lulusan SMK), juga kemauan serta kecintaan mereka terhadap bidangnya sendiri. Kalau teknik atau keahlian masih bisa di-upgrade,” katanya di Gedung SMKN 4 Malang, Jawa Timur, Jumat (3/5/2017).

Mengenai kompetensi lulusan SMK secara umum, ia menilai banyak lulusan SMK yang sudah siap bekerja setelah lulus. Namun, ada juga yang belum memenuhi kompetensi yang diharapkan DUDI sehingga tidak bisa langsung diterima bekerja. Langkah SMKN 4 Malang untuk melibatkan DUDI dalam proses pembelajaran dan proses rekrutmen siswanya untuk praktik kerja industri (prakerin) maupun lapangan kerja, dinilainya sebagai langkah yang tepat. “Masukan dari pihak industri untuk pembelajaran juga diperlukan (sekolah),” katanya.

Kepala SMKN 4 Malang, Wadib S mengatakan, pihaknya sudah lama menjalin kerja sama dengan DUDI untuk prakerin maupun rekrutmen tenaga kerja. Perusahaan yang bekerja sama dengan SMKN 4 Malang terdiri dari berbagai jenis, mulai dari perusahaan lokal di Malang atau Jawa Timur, perusahaan berskala nasional, hingga internasional. Untuk prakerin, siswa SMKN 4 Malang menjalani prakerin selama satu tahun, sedangkan SMK lain masih banyak yang menerapkan prakerin selama tiga hingga enam bulan. Rentang waktu prakerin setahun itu dinilai cukup untuk membuat siswa merasa lebih siap bekerja setelah lulus, juga membuat DUDI bisa melihat dan menganalisis sendiri kompetensi calon tenaga kerjanya.

“Sehingga kalau sesuai dengan industri, dan industri sedang membutuhkan tenaga kerja, pasti (lulusan SMKN 4 Malang) diserap (sebagai tenaga kerja). Karena mereka sudah tahu kompetensi dan karakter anak-anaknya. Jadi ketika siswa selesai prakerin di semester 4), mereka balik ke sekolah untuk ujian nasional, lalu kembali lagi ke industri (untuk langsung bekerja),” ujar Wadib. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://sel.co.id/